Kesehatan suatu bangsa, diawali dari apa yang masuk ke perutnya. Pepatah Jepang: “jika perutmu sehat, maka sehatlah kau”.
Bagaimana kita ?
Dimulai dari kasus ikan yang diformalin, dilanjutkan daging ayam disuntik formalin, dan lalu bakso berpengawet borax.
Lalu daging sapi sisa-sisa hotel yang tak terjual diolah kembali, diberi zat pewarna dan diawetkan dengan formalin, dijual di warung makan pinggir jalan.
Kemudian susu kaleng yang sudah kedaluarsa dari Malaysia masuk ke pasar dalam negeri, susu bubuk yang mengandung melamin, minuman yang diwarnai bukan dengan zat pewarna makanan beredar di swalayan-swalayan.
Lalu gorengan tempe dan tahu yang digoreng dengan minyak goreng berplastik, dan jajanan kecil yang memakai pewarna kain.
Jamu yang katanya herbal ternyata mengandung bahan kimia sintetik, dan ternyata banyak madu palsu beredar dan dijual di swalayan.
Buah-buahan yang mengandung pestisida, dan yang diawetkan dengan zat kimia tertentu, semua itu ada di pasar kita.
Kerupuk yang sangat disukai masyarakat itu, dan menjadi konsumsi sehari-hari pendamping lauk, ternyata banyak yang memakai boraks.
Kue kering kemasan mengandung boraks dan pemanis sintetik.
Obat-obatan yang sudah kedaluarsa, dikemas ulang dan dijual kembali
Pemerintah mengumumkan sejumlah makanan dan minuman kemasan tidak layak konsumsi, tapi mereka tidak mau menyebutkan apa jenis dan merek, rakyat hanya diminta berhati-hati tapi tidak diberi informasi lengkap.
Ini selalu berulang, karena tidak ada hukum yang menjerakan.
Bayangkanlah !!!!
Anak kita sejak kelas satu SD: “minum susu kedaluarsa dan mengandung melamin, makan siang di rumah dengan ikan berformalin, lalu buah yang mengandung pestisida, di sekolah dia jajan tahu goreng berpengawet borax dan digoreng dengan minyak goreng berplastik, saat dia flu obat yang kita berikan ternyata sudah kedaluarsa dan saat Lebaran atau Natalan, kue kering yang kita suguhkan mengandung borax”
15 tahun dari sekarang, mereka tumbuh menjadi generasi dungu.
Atau, barang kali itulah tujuannya. Agar 15 tahun ke depan kita memiliki generasi muda yang dungu karena didungukan dengan salah satunya melalui makanan, sehingga segala kekayaan negeri yang melimpah ini dapat dengan mudah dikuasai entah oleh siapa, untuk kalangan sendiri.
Saat bulan puasa, bagaimana konsumsi anda saat berbuka?, mungkin semua yang anda konsumsi mengandung formalin, boraks, atau pewarna kain, dan madu yang anda minum itu adalah madu palsu.
Mengapa selalu berulang?, aku merasakan adanya konspirasi subversif di dalamnya.
Sehatkah pola makan dilingkungan kita???
Reviewed by ADMIN
on
00.33
Rating:
Reviewed by ADMIN
on
00.33
Rating:
