Menyimak pemberitaan mengenai banyaknya produk-produk yang berbahaya dibulan ramadhan ini, baik produk kadaluarsa maupun produk-produk yang tak layak konsumsi, sedikit membuka hati saya untuk berbagi seberapa pentingnya mewaspadai produk-produk yang akan kita konsumsi, dan kali ini yang saya soroti adalah produk sirup yang beredar dipasaran, karena seperti pada umumnya, menu buka puasa banyak yang berhubungan dengan penggunaan sirup.
Menurut investigasi sebuah setasiun televisi yang menyorot peredaran sirup dipasaran, bahwa dari beberapa sampel sirup baik yang terkenal maupun tidak, 50 % dari sampel tersebut ternyata mengandung zat berbahaya bagi tubuh, baik berupa zat warna buatan, seperti rodhamin B, maupun zat pemanis buatan siklamat, dan juga boraks. Seperti yang diketahui bahwa rodhamin B merupakan zat pewarna buatan khusus tekstil, dan siklamat adalah pemanis buatan yang mulanya dikhususkan untuk penderita diabetes mellitus yang berpantang dengan gula tebu (sukrosa), namun disaat ini, siklamat digunakan juga sebagai pemanis buatan produk-produk kemasan selain aspartam. Sedangkan boraks, adalah zat pengawet yang bukan untuk makanan, dan disinyalir merupakan zat pencetus kangker jika tertimbun dalam tubuh.
Menurut sumber investigasi tersebut, sejak tahun1979, di USA sudah dilarang penggunaan siklamat ini, karena dicurigai sebagai pemicu terjadinya penggandaan sel (kangker) pada kandung kemih, namun untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, penggunaan siklamat masih direstui dengan solusi, membatasi jumlah siklamat yang masuk kedalam tubuh tak lebih dari 3 gram perhari. Ini juga mirip MSG (monosodium glutamat/mononatrium glutamat), yang memiliki ambang batas 5 miligram perhari, atau merujuk pada penghitungan ambang batas aman konsumsi sesuai dengan berat tubuh konsumen.
Lantas, bagaimana kita bisa mewaspadai produk sirup yang beredar dipasaran ini, berikut tips sederhana untuk mengetahui suatu produk sirup mengandung zat berbahaya atau tidak,
1. Mengandung Rodhamin B
cara mendeteksinya, ambil beberapa mililiter sirup, kemudian tetesi dengan asam klorida (HCl), jika warna sirup berubah oranye, maka sirup positif mengandung rodhamin B
2. Mengandung boraks
terkadang, boraks juga digunakan produsen nakal untuk pengganti natrium benzoat sebagai pengawet produk, cara mendeteksinya adalah, ambil beberapa mililiter sirup, tambah alkohol, kemudian, dibakar, jika terjadi warna nyala hijau, maka produk positif mengandung boraks
3. Mengandung siklamat
keamanan zat pemanis buatan siklamat memang masih pro kontra, sehingga produk-produk sirup yang beredar dipasaran, sebagian besar masih mengandung siklamat, jadi untuk mewaspadainya, jangan terlalu banyak mengkonsumsi sirup dalam satu hari, karena ambang batas keamanannya hanya 3 gram/hari, jadi hindari terlalu banyak mengkonsumsi sirup untuk menghindari penimbunan siklamat dalam tubuh. Untuk deteksi siklamat, menggunakan reagen tertentu yang akan menunjukkan hasil positif siklamat jika warna sirup berubah menjadi merah meyala.
4. Mengandung zat pewarna buatan
Sebenarnya, untuk membedakan sirup yang menggunakan pewarna buatan dengan pewarna alami mudah saja, jika dilarutkan dalam air, sirup yang berpewarna buatan, cenderung berwarna terang menyala (pekat), sedang yang berpewarna alami cenderung pucat.
Selain itu, untuk mengetahui suatu produk sirup mengandung zat pewarna buatan, bisa dengan reagen cuka, ambil beberapa mililiter sirup, campur dengan asam cuka (asam asetat), jika warna sirup tidak pudar/menjadi bening, maka produk sirup tersebut dipastikan mengandung pewarna buatan, karena biasanya, pewarna alami akan menjadi pudar jika bereaksi dengan asam cuka.
Demikian info singkat ini, semoga bermanfaat
Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/makanan/2012/07/31/waspadai-peredaran-sirup-berbahaya
Waspada peredaran sirup berbahaya
Reviewed by ADMIN
on
19.41
Rating:
Reviewed by ADMIN
on
19.41
Rating:
